
Suatu Parodi Rohani
Pemegang peran : - Seorang Bapak Pendeta (L)
- Seorang Istri Pendeta (P)
- 2 orang anak kecil (L/P
- 2 orang pemuda/pemudi (L/P)
- Seorang Madura
Stage I – Keluarga Pdt. Rohadi sedang berdiskusi di pastori.
Bp. Rohadi : Puji Tuhan lho bu. Kita sudah melayani di tempat ini selama 10
tahun. Jemaat pun dapat bertumbuh dengan baik. Anak-anak kita juga dapat menjadi contoh yang baik. Memang bekerja di ladang Tuhan itu manise ya bu.
Ibu Rohadi : Manise sih ya manise. Tapi ingat lho pak! Bulan Juni yang akan
datang kita mesti nyekolahkan anak kita ke kota. Uang dari mana? Jemaat yang kita layani kan persembahannya tidak banyak. Biasanya kan mereka membawa pisang, ketela, dan hasil ladang lainnya. Usaha lain gitu lho pak. Nulis surat ke MPH kek, kontak saudara Bapak yang di Jakarta, kek. Jangan diam terus gini lho pak.
Bp. Rohadi : Lho, kan firman Tuhan bilang supaya kita jangan mengandalkan
manusia, nanti bisa kecewa lho bu. Kalau sekedar nuli ssurat ke MPH sih bisa bu. Tapi bantudan dari MPH kan juga terbatas. Iya, ndak? Lha wong yang dibantu buanyak kok bu. Belum lagi nanti untuk biaya konven dan sidang sinode. Kalo suruh ngontak saudaraku, aku ndak mau bu. Sudahlah, kita berseru pada Tuhan saja.
Rona dan Roni : Pak, bu. Ndak usah kuatir. Rona dan Roni juga pasrah kok. Kalau
memang Tuhan ijinkan kami sekolah di kota, pasti Tuhan sediakan berkatnya. Kalau ndak, ya udah. Abis SMP aku kerja aja di ladang.
Ibu Rohadi : Gini lho. Doa itu ya doa, tapi kan juga harus usaha. Masak mau
gini terus. Sudah, ayo doa. Roni yang pimpin ya.
Stage II – Pak Rohadi kedatangan tamu, seorang pemuda dan seorang pemudi
Pemuda : Pak Pendeta, permisi. Saya datang ke sini mau pamit. Saya mau
kerja di kota mulai minggu depan, di Semarang. Jadi saya nggak bisa ngiringi jemaat dengan gitar lagi.
Pak Rohadi (sdikit terkejut) : Lalu yang gantikan kamu main gitar siapa?
Pemuda : Belum ada pak. Kan Pak Pendeta juga bisa main gitar. Bapak saja
dulu lha yang main. Ini gitarnya pak. Senarnya putus tiga.
Pak Rohadi (garuk kepala) : Ya sudah, sini saya doakan. Kalau udah kerja di kota, kerja
baik-baik ya dan tetap setia sama Tuhan. Nanti bisa kebaktian di
GIA di Semarang ya.
Parodi – 1
Pemudi : Saya juga mohon pamit pak. Calon suami saya membawa saya
kerja di Batam. Saya ndak bisa lagi ngajar KAA.
Ibu Rohadi : Lalu siapa yang gantikan kamu mengajar?
Pemudi : Belum ada, bu. Kan Ibu juga bisa ngajar KAA? Ibu aja dulu yang
mengajar.
Ibu Rohadi : Ya sudah. Pak doakan juga jemaat kita ini. Kamu rukun-rukun ya
dengan suamimu. Jangan banyak-banyak punya anak, nanti kerepotan nyekolahkannya.
(Setelah keduanya pulang, Bapak dan Ibu Rohadi kembali berdiskusi)
Ibu Rohadi : Nat, lihat tuh! Dari kecil kita bimbing, kita latih sampai bisa main
gitar dan ngajar KAA. Kalau sudah jadi pemuda pemudi, pergi ninggalkan kita. Berarti pelayanan kita sia-sia dong pak. Enak gereja yang di kota tuh, tinggal nerima matengnya. Belum lagi kalau mereka sudah kerja. Pernah kita diingat oleh mereka-mereka itu? Perpuluhannya kemana? Persembahannya kemana? Pasti ke gereja yang di kota.
Bapak Rohadi : Ibu gini gimana toh. Firman Tuhan kan juga bilang, bahwa tak ada
pelayanan kita yang sia-sia di hadapan Tuhan. Kalau mereka memang ditempatkan Tuhan di kota, kita harusnya bersyukur. Jika mereka menjadi orang yang berhasil, dikit-dikit kita kan ikut andil. Upah kita melayani bukan dari mereka bu, tapi dari Tuhan sendiri. Di sorga nanti mahkotanya …
Ibu Rohadi : Di sorganya kan masih nanti, pak. Yang kita butuh sekarang ini lho
…
Stage III (Pak Rohadi kedatangan tamu, orang Madura)
Madura (dengan logat khasnya) : Permisi, saya mau minta tolong. Bisa nolong
saya, pak.
Pak Rohadi : Lha apa yang bisa saya bantu, pak!
Madura : Saya ini kesasar pak. Datang jauh-jauh dari Madura bawa truk
jualan bako. Sampai di dekat sini saya di rampok. Mau tak tusuk, orangnya banyak sekali. Jadi saya kalah. Bisa bantu saya ngasih ongkos balik Madura pak. Saya butuhnya cuma Rp. 50.000,-
Pak Rohadi : Tunggu sebentar ya pak!
(Pak Rohadi masuk ke dalam rundingan sama Ibu Rohadi)
Pak Rohadi : Bu, mana uang tabungan kita yang bulan lalu? Itu lho ada orang
perlu ditolong!
Ibu Rohadi : Nolong siapa, pak. Wong kenal aja ndak. Apalagi itu orang
Madura. Biarkan saja, pak. Lagi pula ini uang untuk biaya anakmu sekolah nanti, pak.
Pak Rohadi : Ya sudah, separuh saja. Kasihan dia bu.
Ibu Rohadi : Sudah terserah Bapak. Ini uangnya. Ambil semua!
Parodi – 2
Pak Rohadi : Pak, maaf, saya Cuma bisa bantu separuh ya. Semoga bapak
selamat di jalan.
Madura : Separuh, ya ndak apa-apa. Pokoknya bisa dipake pulang. Makasih
ya pak!
Stage IV – keluarga Pak Rohadi kembali berkumpul di ruang tamu, lalu kedatangan
Tamu, Madura itu lagi.
Madura : Lha, selamat ketemu lagi pak. Saya masih ingat kebaikan bapak 2
bulan lalu. Masih ingat saya pak?
Pak Rohadi : Masih, pak. Lho kok sekarang ke sini lagi, ada apa pak?
Madura : Begini. Saya mau balas kebaikan bapak. Saya ini juragan bako di
Madura. Kalau ndak percaya, tanya sama pak Pdt. Petrus itu. Dia kan juga orang Madura. Saya mau nolong anak Bapak. Ini anaknya, ya pak? (Sambil megang kepala Rona dan Roni). Saya mau ngasih beasiswa untuk anak-anak Bapak, sampai lulus jadi sarjana. Ini saya kasih Rp. 10 juta dulu, ya pak. Selanjutnya saya kirim lewat wesel.
Ibu Rohadi : (lemas lalu pingsan)
Pak Rohadi : Tttt… ee. rr iiimmmma kaaasssiih, pak (lalu pingsan)
Rona dan Roni : Asyiiikkk !!!! Tuhan dengar doa kita!!!
Madura : Bo, abbo. Dikasih uang, malah pingsan. Ya sudah. Ini kamu
pegang, kasihkan bapak ibumu ya. Bapak pamit …
—– selesai —–
Parodi – 3